Langsung ke konten utama

Kisah Harian : Ketemu Jodoh Di Bandara



Jadii ceritanya itu aku baru balik dari nganter temenku pulang. Yaaah walau emang “nganter” bukanlah kata-kata yang tepat karena akhirnya dia-lah yang menyetir kendaraannya selama perjalanan, namun setidaknya dapat menemaninya berbincang mengisi waktu di perjalanan yang ternyata memang tidak pernah cukup walau kami sudah bertemu seharian.
Abis itu, aku memutuskan untuk balik ke kontrakanku dengan menggunakan jasa ojek online yang udah ada tersebar di hampir seluruh bagian Surabaya, dann tidak lama kemudian masuklah notif jika sudah ada orang yang menerima orderanku
“Sesuai aplikasi ya tempatnya mas”
“Siap pak”
Tidak lama kemudian dating sang bapak ojek online di hadapanku, dengan ramahnya dia memberikanku helm lalu mulai memacu kendaraannya. Setelah itu mulai terjadi perbincangan seperti berikut
“Mas disini kuliah atau udah kerja?”
“Masih kuliah pak hehe, sambil mikir alhamdulilah udah ada yang doain hahaha
“Oooh, kuliah dimana mas?”
“Psikologi Unair pak”
“Oooh Unair, saya juga kuliah di Unair mas, S2 ambil ilmu komunikasi”
“Waduuh keren pak, gimana ceritanya?” Disini bau-bau bakal ada cerita asik nih
“Hehe, dulunya saya lulusan S1 ilmu komunikasi di UPN mas. Habis itu saya lanjut lagi S2 di Unair. Ngomong-ngomong tadi pacarnya ya mas?”
“Oh, bukan mas, sahabat deket aja” yah ini udah kesekian kalinya orang-orang nanya begituan. Biasanya sih aku iyain aja, tapi entah kenapa hari ini emang aku pengen ngomong aja haha”
“Oalaaah, saya jadi inget sama istri saya mas jadinya hahaha”
“Waduuuuh, cerita dong pak gimanaa?” Ini mulai lagi ceritanya
“Jadi pas itu saya masih S1 di UPN. Saya janjian sama temen saya untuk jemput di bandara. Terus ternyata dia sama temen-temennya terus saya dikenalin sama temennya cewek dari Bandung gitu. Terus akhirnya ya kami ngobrol gitu dan setelah 1 bulan saya udah membulatkan hati untuk melamar dia karena saya sendiri merasa udah punya modal jadi langsung saya bawa orang tua saya buat ketemu orang tua dia, terus langsung nikah mas”
“Kok bisa cepet gitu ya pak? Sebulan lho padahal”
“Mungkin namanya juga jodoh mas, apalagi udah sama-sama siap jadi kenapa nunggu lagi haha. Buktinya sekarang saya sudah langgeng dan punya anak 2 sekarang”
“Boleh-boleh juga nih pak haha”
“Iya mas, jadi kalo sampean udah punya modal dan kesiapan, langsung aja lamar mas. Soal sisanya udah ada Tuhan yang atur. Percaya aja deh sama Tuhan kalo semuanya emang udah direncanain dari awal”
Setelah itu perbincangan dilanjut mengenai bagaimana dia dulu kuliah, dia bertemu teman-temannya, suka-dukanya sebagai mahasiswa yang sekarang sudah mengambil S2 walau diumur yang sudah dibilang berumur, dan tentang keluarganya.
Tak terasa kami sudah memasuki lingkungan kontrakanku, Tak lupa membayar jasanya sembari mengucapkan terimakasih atas tumpangan dan pelajaran berharganya akhirnya kami berpisah.
Namun ada satu hal yang masih terngiang di kepalaku hingga sekarang, misalkan saja Bapak tersebut menolak permintaan temannya untuk bertemu di bandara, belum tentu bapak itu sudah menikah dengan istrinya yang sekarang. Jika saja bapak tersebut tidak memberanikan diri untuk segera melamarnya, mungkin ceritanya berbeda lagi. Dan jika saja aku memesan jasas ojek online 1 menit lebih awal atau lebih terlambat, mungkin saja aku tidak dapat mendapatkan pelajaran berharga dari bapak tersebut.
Memang semuanya sudah ada yang mengaturnya.
Tinggal bagaimana dan kapan saja semua itu disajikan kepada kita.

Selamat malam semuanya~

*pict dari jawa-pos, ide ini aja masih dadakan haha, next time nanti aku upload foto orangnya yaa




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pojok Sastra : Perputaskaan Sajak

Jadi karena saya bukan tipikal yang seulet itu bikin sajak panjang, semua sajak bakal selalu di post di artikel ini dengan jangka update sesuai mood saya sendiri haha Seringlah mampir, barangkali ada saja yang baru disini ============================================= Kertas Putih Kamu bagaikan penulis handal yang mentorehkan tintanya diatas tubuhku. Menuliskan kisah luar biasa yang belum pernah aku rasakan, menikmati setiap goresannya walau tubuh ini kadang terluka memang resiko yang aku ambil sejak awal. Tak terasa tinta pena tersebut akan habis, lalu pergi untuk sesaat. Kamu kembali membawa tinta yang jauh lebih indah dari sebelumnya, bersama sebuah kertas baru yang aku rasa memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dariku. Tapi tak apa, aku bersyukur kamu masih menyimpanku didalam rak bukumu. Walau aku tahu kamu sedang menuliskan kisah lain yang jauh lebih indah disana. Aku tetap percaya suatu saat kau akan kembali ketika kamu merasa jenuh. Mengambil kertas us...

Catatan Seorang Perantau : Malam Hujan, Sendiri dalam Ramai

3 Maret, 2018 Malam Hujan, Sendiri dalam Ramai Hujan turun di malam Surabaya. Cukup deras namun tak berangin. Aku duduk di tepi balkon salah satu restoran fast food di pinggiran kota Surabaya. Berbagai macam pemandangan dapat aku lihat dari sini, Dari drama beberapa orang yang merayakan ulan tahun temannya, remaja dan pasangan yang bermalam minggu ria bermodal minuman serta 2 buah burger dan kentang goreng, sebuah keluarga bersama 3 orang anak yang berbahagia melahap 2 potong ayam tepung dengan lahapnya, serta beberapa orang yang berduyun-duyun datang hanya sekedar berteduh dari hujan yang datang tanpa diduga ini. DIsini aku duduk sendiri menulis cerita ini ditemani French fries dan segelas McFloat cola yang sebenarnya tak sengaja ku pesan.   Jika kalian bertanya mengapa aku menulis cerita ini, aku sendiri pun tidak tahu alasan yang tepat. Hampir seharian ini aku tertidur pulas di kamar kontrakanku yang berada dekat salah satu kampus unggulan di negeri ini dan akh...