Langsung ke konten utama

Catatan Seorang Perantau : Malam Hujan, Sendiri dalam Ramai


3 Maret, 2018
Malam Hujan, Sendiri dalam Ramai

Hujan turun di malam Surabaya. Cukup deras namun tak berangin.

Aku duduk di tepi balkon salah satu restoran fast food di pinggiran kota Surabaya. Berbagai macam pemandangan dapat aku lihat dari sini, Dari drama beberapa orang yang merayakan ulan tahun temannya, remaja dan pasangan yang bermalam minggu ria bermodal minuman serta 2 buah burger dan kentang goreng, sebuah keluarga bersama 3 orang anak yang berbahagia melahap 2 potong ayam tepung dengan lahapnya, serta beberapa orang yang berduyun-duyun datang hanya sekedar berteduh dari hujan yang datang tanpa diduga ini. DIsini aku duduk sendiri menulis cerita ini ditemani French fries dan segelas McFloat cola yang sebenarnya tak sengaja ku pesan.

 Jika kalian bertanya mengapa aku menulis cerita ini, aku sendiri pun tidak tahu alasan yang tepat. Hampir seharian ini aku tertidur pulas di kamar kontrakanku yang berada dekat salah satu kampus unggulan di negeri ini dan akhirnya terbangun mencari aktifitas yang dapat aku lakukan untuk mengusir kebosanan. Yasudahlah, bermalam minggu sendiri bukanlah hal yang buruk untuk aku coba. Walau biasanya aku menghabiskan malam mingguku menginap dirumah salah satu temanku maupun hanya bermalam di warung game online langgananku, tapi kali ini kurasa aku hanya sedang sendiri diantara keramaian. Tidak ada maksud lebih atau lainnya.

Aku jadi teringat dengan sebuah buku yang pernah aku dapatkan dari adik tingkatku. Sebuah buku berjudul “The Secret” karangan Rhonda Byrne. Sebelumnya aku telah bertanya pada sahabatku Dinda tentang isi buku itu. Ia berkata bahwa itu merupakan buku yang sering dibahas di media social tentang sebuah istilah “Law Of Attraction”. Tidaklah asing di telingaku mengenai istilah itu karena temanku Faridz sering memposting hal tersebut di media sosialnya bersamaan sebuah paham bahwa “Jika kita terus percaya dan memikirkan apa mimpi kita, maka secara tak sadar semesta pun aka turut mendukung kita”. Terdengar klise memang, namun hal ini sudah umum dan dipercaya banyak orang.

Apakah semesta memang berjalan seperti itu? Apakah memang semudah itu dengan mempercayai akan suatu hal, yang tentu saja diiringi usaha yang keras, maka semua impian dan cita-cita kita akan terjadi? Apakah memang hal itulah yang terbaik untuk kita dapatkan? Atau apakah itu berarti kita meng-intervensi kuasa Tuhan atas renana yang memang akan kita lakukan di masa depan nanti? Pertanyaan seperti itu seringkali melayang dipikiranku sembari menikmati minumanku yang sudah mulai terasa hambar.

Tapi memang tak bisa dipungkiri, ada banyak hal yang dulu hanyalah seperti impian masa kecil yang terasa tidak mungkin namun pada kenyatannya terjadi. Aku tidak pernah membayangkan di saat kecil dulu aku dapat duduk sendiri di muka umum bersama sebuah laptop dan mengetik cerita ini dikala orang-orang mungkin sudah tidur terlelap. Dapat dibilang hal seperti itu memang benar-benar ada dan nyata. Sayangnya memang, tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan harapan kita. Memang bisa karena hal tersebut bukanlah hal yang baik buat kita, mungkin karena pada saat itu kita memang belum siap untuk mendapatkannya, atau mungkin Tuhan memiliki rencana lain untuk kita.

Hujan sudah mulai mereda, rasa kantuk mulai menerjang.

Mungkin ini sudah saatnya aku kembali pulang.

Walau memang aku memiliki janji bersama Dinda besok pagi, entah kenapa aku masih enggan untuk mengakhiri malam ini.

Tapi dasar manusia.

Dualisme tubuh dan pikiran,

Walau pikiran ini masih liar terbang mencipta kreasi,

Tubuh ini sudah memohon istirahat


Selamat malam semua



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Harian : Ketemu Jodoh Di Bandara

Jadii ceritanya itu aku baru balik dari nganter temenku pulang. Yaaah walau emang “nganter” bukanlah kata-kata yang tepat karena akhirnya dia-lah yang menyetir kendaraannya selama perjalanan, namun setidaknya dapat menemaninya berbincang mengisi waktu di perjalanan yang ternyata memang tidak pernah cukup walau kami sudah bertemu seharian. Abis itu, aku memutuskan untuk balik ke kontrakanku dengan menggunakan jasa ojek online yang udah ada tersebar di hampir seluruh bagian Surabaya, dann tidak lama kemudian masuklah notif jika sudah ada orang yang menerima orderanku “Sesuai aplikasi ya tempatnya mas” “Siap pak” Tidak lama kemudian dating sang bapak ojek online di hadapanku, dengan ramahnya dia memberikanku helm lalu mulai memacu kendaraannya. Setelah itu mulai terjadi perbincangan seperti berikut “Mas disini kuliah atau udah kerja?” “Masih kuliah pak hehe, sambil mikir alhamdulilah udah ada yang doain hahaha “Oooh, kuliah dimana mas?” “Psikologi Unair pak” “Oooh...

Pojok Sastra : Perputaskaan Sajak

Jadi karena saya bukan tipikal yang seulet itu bikin sajak panjang, semua sajak bakal selalu di post di artikel ini dengan jangka update sesuai mood saya sendiri haha Seringlah mampir, barangkali ada saja yang baru disini ============================================= Kertas Putih Kamu bagaikan penulis handal yang mentorehkan tintanya diatas tubuhku. Menuliskan kisah luar biasa yang belum pernah aku rasakan, menikmati setiap goresannya walau tubuh ini kadang terluka memang resiko yang aku ambil sejak awal. Tak terasa tinta pena tersebut akan habis, lalu pergi untuk sesaat. Kamu kembali membawa tinta yang jauh lebih indah dari sebelumnya, bersama sebuah kertas baru yang aku rasa memiliki kualitas yang jauh lebih unggul dariku. Tapi tak apa, aku bersyukur kamu masih menyimpanku didalam rak bukumu. Walau aku tahu kamu sedang menuliskan kisah lain yang jauh lebih indah disana. Aku tetap percaya suatu saat kau akan kembali ketika kamu merasa jenuh. Mengambil kertas us...