Malam Hujan, Sendiri dalam Ramai
Hujan turun di malam Surabaya. Cukup deras namun tak berangin.
Aku duduk di tepi balkon salah satu restoran fast food di pinggiran
kota Surabaya. Berbagai macam pemandangan dapat aku lihat dari sini, Dari drama
beberapa orang yang merayakan ulan tahun temannya, remaja dan pasangan yang
bermalam minggu ria bermodal minuman serta 2 buah burger dan kentang goreng,
sebuah keluarga bersama 3 orang anak yang berbahagia melahap 2 potong ayam
tepung dengan lahapnya, serta beberapa orang yang berduyun-duyun datang hanya
sekedar berteduh dari hujan yang datang tanpa diduga ini. DIsini aku duduk
sendiri menulis cerita ini ditemani French fries dan segelas McFloat cola yang
sebenarnya tak sengaja ku pesan.
Jika kalian bertanya mengapa
aku menulis cerita ini, aku sendiri pun tidak tahu alasan yang tepat. Hampir
seharian ini aku tertidur pulas di kamar kontrakanku yang berada dekat salah
satu kampus unggulan di negeri ini dan akhirnya terbangun mencari aktifitas yang
dapat aku lakukan untuk mengusir kebosanan. Yasudahlah, bermalam minggu sendiri
bukanlah hal yang buruk untuk aku coba. Walau biasanya aku menghabiskan malam
mingguku menginap dirumah salah satu temanku maupun hanya bermalam di warung
game online langgananku, tapi kali ini kurasa aku hanya sedang sendiri diantara
keramaian. Tidak ada maksud lebih atau lainnya.
Aku jadi teringat dengan sebuah buku yang pernah aku dapatkan dari
adik tingkatku. Sebuah buku berjudul “The Secret” karangan Rhonda Byrne. Sebelumnya
aku telah bertanya pada sahabatku Dinda tentang isi buku itu. Ia berkata bahwa
itu merupakan buku yang sering dibahas di media social tentang sebuah istilah
“Law Of Attraction”. Tidaklah asing di telingaku mengenai istilah itu karena
temanku Faridz sering memposting hal tersebut di media sosialnya bersamaan
sebuah paham bahwa “Jika kita terus percaya dan memikirkan apa mimpi kita, maka
secara tak sadar semesta pun aka turut mendukung kita”. Terdengar klise memang,
namun hal ini sudah umum dan dipercaya banyak orang.
Apakah semesta memang berjalan seperti itu? Apakah memang
semudah itu dengan mempercayai akan suatu hal, yang tentu saja diiringi usaha
yang keras, maka semua impian dan cita-cita kita akan terjadi? Apakah memang
hal itulah yang terbaik untuk kita dapatkan? Atau apakah itu berarti kita
meng-intervensi kuasa Tuhan atas renana yang memang akan kita lakukan di masa
depan nanti? Pertanyaan seperti itu seringkali melayang dipikiranku sembari
menikmati minumanku yang sudah mulai terasa hambar.
Tapi memang tak bisa dipungkiri, ada banyak hal yang dulu hanyalah
seperti impian masa kecil yang terasa tidak mungkin namun pada kenyatannya
terjadi. Aku tidak pernah membayangkan di saat kecil dulu aku dapat duduk
sendiri di muka umum bersama sebuah laptop dan mengetik cerita ini dikala
orang-orang mungkin sudah tidur terlelap. Dapat dibilang hal seperti itu memang
benar-benar ada dan nyata. Sayangnya memang, tidak semua hal dapat berjalan
sesuai dengan harapan kita. Memang bisa karena hal tersebut bukanlah hal yang
baik buat kita, mungkin karena pada saat itu kita memang belum siap untuk
mendapatkannya, atau mungkin Tuhan memiliki rencana lain untuk kita.
Hujan sudah mulai mereda, rasa kantuk mulai menerjang.
Mungkin ini sudah saatnya aku kembali pulang.
Walau memang aku memiliki janji bersama Dinda besok pagi, entah
kenapa aku masih enggan untuk mengakhiri malam ini.
Tapi dasar manusia.
Dualisme tubuh dan pikiran,
Walau pikiran ini masih liar terbang mencipta kreasi,
Tubuh ini sudah memohon istirahat
Selamat malam semua

Komentar
Posting Komentar